Minggu, 14 Agustus 2011

Sebuah Keraguan Lestarinya Biodiversitas di Kampus Hijau


Kampus IPB atau yang sering disebut kampus hijau menyimpan keanekaragaman hayati yang bervariasi diantaranya adalah satwa burung. Dimana menurut Dono (2003), keberadaan burung dapat dijadikan alat indikator/alat bantu untuk menentukan skala prioritas dalam penanganan permasalahan lingkungan karena burung mempunyai atribut yang mendukung, hidup di seluruh habitat di dunia, relatif mudah diidentifikasi, peka terhadap perubahan lingkungan, data penyebarannya relatif cukup diketahui dan terdokumentasi dengan baik serta taksonominya cukup lengkap. Daftar dibawah ini memuat jenis-jenis burung yang dijumpai pada saat kegiatan birdwatching di area kampus IPB Dramaga selama kurun waktu 2006 - 2008, terdapat kemungkinan daftar yang dijumpai tersebut hanya sebagian atau dengan kata lain sebenarnya masih ada jenis yang belum terident dan belum masuk ke list. 
Mengingat jenis-jenis burung liar yang beragam tersebut, tiba-tiba terbersit sebuah pertanyaan, apakah keanekaragaman spesies burung tersebut masih lestari sampai saat ini????, masihkah mereka dapat dijumpai dengan mudah di waktu sekarang ini???, timbul keraguan jawaban akan pertanyaan tersebut mengingat masa sekarang pastilah berbeda dengan masa ketika tahun 2008, 2007, 2006, atau tahun-tahun sebelumnya. Masa sekarang nampaknya masa-masa pembangunan fisik bagi si "kampus hijau", sebuah pembangunan yang nampaknya akan menggeser lahan-lahan hijau habitat satwa burung. Apabila terjadi penurunan spesies atau jumlah maka dapat diambil kesimpulan singkat bahwa si "kampus hijau" tidak bisa menjaga dan mempertahankan kelestarian keanekaragaman hayati yang merupakan anugerah-Nya. Sungguh miris jika kondisi tersebut benar-benar terjadi, satwa liar penghuninya (burung liar) ibarat peribahasa, "tikus mati di lumbung padi", satwa liar "terdesak" di dalam lingkungan yang berisi manusia-manusia cerdas yang berpikiran "hijau". Semoga hal tersebut tidak terjadi, dan semoga keanekaragam hayati di kampus hijau dapat lestari.

Daftar List Burung yang dijumpai di Kampus IPB Darmaga, Bogor (2006 – 2008)
  • Walet sarang putih (Collocalia fuciphaga)
  • Kapinis rumah (Apus affinis)
  • Walet linchi (Collocalia linchi)
  • Kowak malam kelabu (Nycticorax nycticorax)
  • Gemak loreng (Turnix suscitator)
  • Walet-palem asia (Cypsiurus balasiensis)
  • Kareo padi (Amaurornis phoenicurus)
  • Punai gading (Treron vernans)
  • Tekukur biasa (Streptopelia chinensis)
  • Delimukan zamrud (Chalcophaps indica)
  • Betet biasa (Psittacula alexandri)
  • Bubut alang-alang (Centropus bengalensis)
  • Wiwik lurik (Cacomantis sonneratii)
  • Wiwik kelabu (Cacomantis merulinus)
  • Wiwik uncuing (Cuculus sepulcralis)
  • Serak jawa (Tyto alba)
  • Raja udang meninting (Alcedo meninting)
  • Cekakak jawa (Halcyon cyanoventris)
  • Cekakak belukar (Halcyon smyrnensis)
  • Cekakak sungai (Todirhampus chloris)
  • Caladi tilik (Picoides moluccensis)
  • Layang-layang batu (Hirundo tahitica)
  • Layang-layang loreng (Hirundo striolata)
  • Sepah kecil (Pericrocotus cinnamomeus)
  • Kepudang kuduk hitam (Oriolus chinensis)
  • Kekep babi (Artamus leucorhynchus)
  • Cipoh kacat (Aegithina tiphia)
  • Srigunting hitam (Dicrurus macrocercus)
  • Srigunting kelabu (Dicrurus leucophaeus)
  • Cucak kutilang (Pycnonotus aurigaster)
  • Gagak hutan (Corvus enca)
  • Cinenen pisang (Orthotomus sutorius)
  • Cinenen jawa (Orthotomus sepium)
  • Prenjak jawa (Prinia familiaris)
  • Cabai jawa (Dicaeum trochileum)
  • Bentet kelabu (Lanius schach)
  • Pelanduk semak (malacocincla sepiarium)
  • Remetuk laut (Gerygone sulphurea)
  • Kipasan belang (Rhipidura javanica)
  • Burung madu kelapa (Anthreptes malacensis)
  • Burung madu sriganti (Nectarinia jugularis)
  • Pijantung kecil (Arachnothera longirostra)
  • Kacamata biasa (Zosterops palpebrosus)
  • Burung gereja erasia (Passer montanus)
  • Bondol jawa (Lonchura leucogastroides)
  • Bondol peking (Lonchura punctulata)
  • Elang-ular bido (Spilornis cheela)
  • Pelanduk topi hitam (Pellorneum capistratum)
  • Cikrak kutub (Philloscopus borealis)
  • Celepuk reban (Otus lempiji)
  • Paruh-kodok jawa (Batrachostomus javensis)

Selasa, 12 Juli 2011

Untuk Negriku 6

Beragam himbauan yang bertemakan "Selamatkan Alam" atau "Selamatkan Lingkungan" atau "Selamatkan Keanekaragaman Hayati" sering terlihat di berbagai sudut kehidupan, mulai dari media cetak, elektronik, poster, spanduk, brosur, atau leaflet, baik yang diinisiasi oleh instansi pemerintah ataupun non-pemerintah. Rasa-rasanya setiap masyarakat pernah membacanya, entah detail ataupun hanya sekilas saja. Sebuah slogan atau pesan yang menghimbau terhadap penyelamatan alam dan lingkungan dengan gaya bahasa yang menarik dan tata gambar yang indah ataupun mengharukan nampaknya menjadi tren di kala manusia cenderung tidak peduli lagi dengan alam sekitar.

Lazimnya pemasang himbauan tersebut selalu merasa khawatir andai pesan yang ingin disampaikan tidak sampai ke khalayak umum. Entah mengena atau tidak, entah mahal atau murah, yang terpenting bagi mereka adalah sudah mengajak masyarakat umum untuk berbuat baik terhadap alam serta secara ikhlas mengajarkan pentingnya alam untuk kehidupan manusia saat ini dan masa yang akan datang. Nampaknya kondisi seperti ini hanya dipunyai oleh manusia-manusia yang benar-benar ikhlas menyerahakan jiwa raganya untuk kelestarian alam dan lingkungan sehingga himbauan yang ditorehkan mereka pun terlihat lebih serius dan bahasanya hidup. 

Namun, bagaimanakah pesan atau slogan himbauan pentingnya pelestarian alam yang dipasang oleh instansi pemerintah, apakah terdapat keseriusan dari pihak pemerintah untuk benar-benar mengharapkan "mengenanya" pesan yang disampaikan???. Menurut pribadi penulis, rasa-rasanya pesan himbauan yang disampaikan oleh instansi pemerintah tidak mempunyai unsur keseriusan atau mungkin bisa disebut sebagai guyonan belaka, hanya sebatas kalimat dengan bahasa yang tidak hidup atau sama sekali tidak akan pernah hidup. Apabila kalimat himbauan tersebut dituliskan pada sebuah media, nampaknya hal itu hanyalah sebuah proyek yang bisa diambil keuntungan ekonominya ataupun bisa dikorupsi sedikit. Selain itu,rasa-rasanya tidak pernah ada upaya lebih lanjut dari instansi pemerintah untuk mengajarkan masyarakat umum bagaimana bersikap baik terhadap alam. Miris sekali ketika pemerintah yang seharusnya mengayomi bangsa dan negri ini, mengayomi bukan saja masyarakatnya tetapi juga alam yang telah memberi bentuk wajah negri ini. Bagaimana nasib keanekaragaman hayati negriku jika tidak ada keseriusan di pihak pemerintah untuk menggarap kelestarian alam dan keanekaragaman hayati.

Tak hanya itu saja, pesan pelestarian pun nampaknya hanya menjadi formalitas perusahaan-perusahaan pengeksploitasi alam. Mereka dengan mudahnya menyisihkan sedikit "uang" mereka pada program yang sering kita dengar sebagai CSR yang bertemakan lingkungan. Tetapi apakah kita pernah berpikir berapa keuntungan yang mereka dapatkan setelah "menganiaya" alam negri ini, lalu dengan mudahnya mereka berbicara tentang "pentingnya" pelestarian alam dan keanekaragaman hayati. Rasa-rasanya mereka menganggap uang akan menyelesaikan masalah pelestarian alam, dengan menyuap si pembuat kebijakan, bahkan dengan menyuap masyarakat melalui CSR maka formalitas pelestarian alam pun sudah terpenuhi.

Senin, 11 Juli 2011

harapan sang waktu

harapan malam akan siang, dan
siang pun mengharap malam
bukanlah absurd,
melainkan repetisi waktu
setiap saat, tidak kenal musim
baginya hanyalah impian kenyataan sebongkah asa
kala impian tiba,
masa gelap terang, dan terang gelap
melebur menjadi satu warna
dalam sebuah simbol gerhana
maka, malam mendekap siang,
dan siang pun membelai malam
sebuah masa istimewa dari sang pencipta
harapan impian siang untuk malam
dan malam untuk siang
adalah kenyataan harapan hati atasmu

bogor, 30 juni 2011

hijau biru

hijau biru,
bukan langit bukan pula bumi

hijau biru,
memadu kaki langit puncak nan megah halimun salak
takjubnya akal lantaran romantisme hijau biru
begitu selaras dengan mata angin
pun mesra mendekap kasih dua kepak garuda
di dahan pohon yang dedaunnya melebur dalam ragam rupawan

hijau biru,
wujud indahnya harmonisasi warna kehidupan 
begitu lekatnya,
halimun pun tak pernah mengusik
bahkan mendung pun enggan bersinggung

hijau biru, 
dua warna yang akan memeluk asa
dua jiwa makhluk muka bumi
yang corak rupanya tak akan pernah memudar
karena lestari adalah takdir dari sang khalik


bintaro, 12 juli 2011

Untuk Negriku 5

Terulang lagi sebuah kisah memilukan, belum begitu lama berselang sudah terdengar mirisnya kabar "amarah" warga terhadap sang loreng pewaris terakhir hutan sumatera. Berita yang tak sengaja terdengar hari ini dari Redaksi Sore Trans 7 mengabarkan bahwa seekor harimau sumatera betina terjerat oleh perangkap warga di salah satu kabupaten di Sumatera Barat. Diberitakan bahwa jerat tersebut senagaja dipasang lantaran warga sekitar merasa kesal dengan ulang sang loreng yang sering memangsa hewan ternak warga. Kekesalan itupun akhirnya berujung pada penjeratan si harimau yang tidak berdosa. Sampai berita tersebut tersiar, terlihat bahwa harimau betina yang ada di dalam perangkap warga masih hidup. Namun, dari gambar terlihat nampaknya sang harimau mengalami kepayahan. Ironisnya, setelah penjeratan tersebut dan harimau masih hidup, warga tidak serta-merta menyerahkan ke pihak BKSDA, alasannya mereka menginginkan si harimau untuk ritual "tolak bala" terlebih dahulu. Tidak begitu jelas, ritual tolak bala yang bagaimanakah yang akan dilakukan oleh warga. 


Sebuah tragedi terhadap keanekaragaman hayati negri ini. Warga atau masyarakat setempat sekitar habitat si loreng yang seharusnya menjadi salah satu unsur pendukung kegiatan pelestarian harimau sumatera justru menjadikan harimau sebagai organisme hama yang patut dihabisi. Harimau bukanlah kucing rumahan yang dengan mudahnya beranak pinak, harimau adalah satwa liar dimana kelangsungan hidupnya membutuhkan habitat yang layak. Habitat pun nampaknya tidak terlepas dari "campur tangan" masyarakat sekitar habitat, sehingga kelayakan sebuah habitat tersebut dapat dinilai dari habitat itu sendiri (misalnya hutan) beserta kearifan dan kebijaksanaan masyarakat sekitar habitat. Namun apa yang terjadi sekarang ini, habitat harimau dan juga satwa liar lainnya mengalami penurunan kelayakan bahkan sampai ke titik terendah, selain itu disertai dengan menurunnya kearifan masyarakat sekitar habitat terhadap tingkah laku alam.


Rasa-rasanya semua hal tersebut mempunyai keterkaitan yang erat dengan kepentingan ekonomi modern. Asalakan bisa diuangkan, maka alam pun digadai. Bagaimana keanekaragaman hayati negri ini bisa langgeng jika kepentingan ekonomi yang merusak dinomorsatukan oleh semua pihak. Bahkan oleh yang disebut sebagai "pemerintah".

Nampaknya kita harus berpikir jernih, ibaratnya harimau adalah anak kecil yang belum tahu-menahu urusan manusia dewasa dan masyarakat diibaratkan sebagai manusia dewasa sekaligus orang tua dari si anak tersebut. Maka, ketika si anak tersebut melakukan kegiatan yang dianggap merugikan orang tuanya, misalkan saja corat-coret tembok di sebuah rumah baru yang baru dibeli orang tuanya secara kredit, apakah si orang tua tersebut akan serta-merta menjebloskan si anak ke dalam penjara ataukah akan menghakimi sendiri. Sudah pasti jawabannya tentu tidak demikian. Selain itu, anak adalah aset dari orang tuanya, begitu juga dengan harimau sumatera sebagai aset dari masyarakat Indonesia dan masyarakat dunia.


Kamis, 07 Juli 2011

Renungan Hubungan Manusia - Hewan - Alam

Hubungan antara manusia dengan hewan atau satwa telah berlangsung sejak manusia dan hewan menjejakkan tapak-tapak mereka di planet biru ini. Entah berjuta tahun lalu ataupun beratus juta tahun lalu belum bisa dipastikan. Namun, yang jelas manusia mempunyai ketergantungan terhadap hewan dan juga dengan habitatnya atau yang lebih luasnya disebut sebagai alam. Begitu butuhnya manusia akan hewan maka terciptalah hewan-hewan domestikasi, mulai dari karnivora sampai omnivora. Domestikasi, Itulah sebuah keberhasilan manusia dalam penguasaan kehidupan hewan dan habitatnya. Selama berabad-abad mungkin apa yang disebut dengan penguasaan itu berjalan secara bijak. 

Namun, apa yang terjadi sekarang adalah kesewenang-wenangan atas apa yang disebut sebagai "penguasaan yang bijak". Kondisi yang terjadi dalam beberapa tahun ini menunjukkan terjadinya pengingkaran dalam kaitan hubungan manusia dan hewan, dan lebih jauh lagi terjadi pengingkaran hubungan manusia dengan alam raya. Siapa pelakunya?, tentu bukan hewan ataupun alam raya. Manusialah yang sehausnya bertanggungjawab terhadap kondisi ini.


Manusia modern nampaknya sudah tidak mewarisi apa yang dinamakan kebajikan, kearifan dan kebijaksanaan manusia kuno. Manusia modern sudah tidak bisa menyelaraskan apa yang seharusnya terjadi dalam hubungan manusia-hewan dan manusia-alam raya. Kondisi ini kemungkinan disebabkan oleh adanya pergeseran kebutuhan ke arah materialistik, jika dahulu kebutuhan hanya sebatas untuk pemenuhan hidup sehari-hari (sandang, papan, dan pangan), tetapi saat ini kebutuhan tersebut melesat lebih jauh ke depan. Materi dalam hal ini bisa deisebut dengan kekayaan dan diwujudkan dalam aktivitas-aktivitas ekonomi. Kondisi tersebut tampaknya telah menggeser kewajaran hubungan manusia-hewan-alam, yang lambat laun akan menciptakan krisis biodiversitas. 


Apa yang terjadi akhir-akhir ini membuktikan betapa kuatnya bayang-bayang materi terhadap kehidupan manusia-manusia modern, sehingga sering sekali mereka memperlakukan "unsur-unsur biodiversitas" sebagai jajahannya. Kesewenang-wenangan, keserakahan, dan ketidakpedulian adalah efek yang ditimbulkan dari apa yang disebut sebagai materi. Lihat saja perlakuan manusia terhadap hewan dimana masih segar dalam ingatan bagaimana manusia memperlakukan ternak potong di rumah pemotongan hewan. Selain itu, bagaimana eksploitasi terhadap satwa-satwa liar yang dapat dilihat di pasar-pasar gelap dan berbagai penyelundupan, ataupun pemaksaan satwa yang seharusnya liar menjadi satwa rumahan, atau manusia modern menyebutnya sebagai satwa eksotik. Hukum yang dibuat sesempurna mungkin nampaknya bukanlah salah satu pemutus mata rantai "penyebab krisis biodiversitas" yang efektif, hukum harus dikombinasikan dengan penyadaran yang nampaknya terlalu sulit dan aneh diaplikasikan.

 

Untuk Negriku 4

Pekan ini, sebuah berita miris datang dari kawasan Riau. Seekor harimau sumatra berjenis kelamin jantan dengan umur sekitar 1,5 tahun mati mengenaskan oleh sebuah jerat babi hutan yang ditanam oleh warga sekitar daerah Pangkalan Kuras. Sebuah kabar dari suatu harian mengatakan bahwa jerat yang ujungnya terbuat dari besi tidak lazim digunakan untuk menjerat babi hutan yang biasanya hanya menggunakan benang nilon saja. 

kematian harimau oleh jerat atau aktivitas manusia mungkin sudah terlalu sering terdengar di telinga, berbagai media telah mewartakannya baik dengan lamanya durasi penayangan atau singkatnya penayangan. Jerat seperti yang digunakan oleh warga Pangkalan Kuras kemungkinan ditujukan langsung untuk menjerat sang harimau, entah alasan dendam atau alasan lainnya. Namun, ketika tim dari pihak yang berwenang mengetahuinya, serta merta warga sekitar tersebut mengubah alasan pemakaian jerat, jerat ditujukan untuk babi hutan, Nampaknya ini sudah menjadi sebuah kebiasaan ketika kejahatan yang dilakukan diketahui oleh pihak berwenang. 
Kematian harimau yang sering oleh manusia di kawasan konservasi ataupun kawasan hutan industri membuktikan bahwa masyarakat sekitar masih mempunyai dendam dengan si loreng dan konflik antara mereka dengan harimau adalah masalah utama warga. Mungkin banyak alasan yang mendasari sebuah dendam tersebut, seringkali hanya masalah klasik yakni urusan perut, masyarakat sekitar dengan teganya membunuh satwa yang terancam kepunahannya itu.

Untuk kejadian pekan ini, apakah harimau tersebut sengaja dibunuh oleh warga lantaran sering memasuki lahan konsesi hutan tanaman industri PR Arara Abadi anak Sinar Mas Group, sehingga dianggap membahayakan keselamatan kerja karyawan dan warga sekitar, belum ada yang tahu. Mengapa kasus ini bisa terjadi ditengah maraknya kepedulian masyarakat dunia akan kelestarian harimau sumatra. Sungguh disayangkan, ketika masyarakat sekitar kawasan yang seharusnya mempunyai kewajiban menjaga kelestarian satwa ini justru dengan alasan kepentingan ekonomi yang absurd dengan kejamnya membantai sang loreng warisan terakhir hutan tropis sumatera. Apakah kampanye kelestarian harimau atau satwa-satwa liar lain tidak sampai ke telinga mereka atau bagaimanakah peran sebuah perusahaan besar sekelas Sinar Mas terhadap kelestarian biodiversitas di sekitar lahan yang mereka gunakan. Sangat disayangkan ketika semua pihak yang berpengaruh menutup mata terhadap kejadian ini. Sekali lagi sungguh disayangkan ketika alasan ekonomi menggusur kepentingan konservasi biodiversitas negri ini.